Red, Endang S/ Redaksi
YOGYAKARTA - Ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Suara Ibu Indonesia Yogyakarta menggelar aksi simbolik dengan memukul panci dan peralatan dapur di Bundaran Universitas Gadjah Mada, Sleman, Selasa (8/9/2026) sore.
Aksi yang berlangsung pukul 15.00 - 17.30 WIB ini merupakan bentuk protes terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, MBG. Massa juga didukung mahasiswa dari UGM, ISI, dan UIN Sunan Kalijaga.
Sepanjang aksi, dentuman panci, wajan, centong, dan teko menggema bersahutan. Bagi peserta, suara gaduh alat dapur dipilih sebagai simbol "sinyal darurat" atas keresahan yang selama ini tidak mendapat ruang.
"Kami tidak bisa tinggal diam ketika anak-anak menjadi korban. Keselamatan anak harus jadi prioritas," ujar salah satu orator.
Soroti Kasus Keracunan dan Tata Kelola:
Dalam orasinya, massa menyoroti adanya lonjakan kasus keracunan massal yang dikaitkan dengan program MBG. Mereka mengklaim sudah ada lebih dari 43.000 korban, termasuk anak-anak dan pelajar, terdampak akibat mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Di antara poster yang dibentangkan tertulis: “Stop MBG sekarang juga”, “Kembalikan daulat pangan ke dapur ibu”, dan “6.618 Bukan Sekedar Angka. 6.618 Anak telah Kau Racuni Pakai Duit Kami”.
Aktivis sosial Wasingatu Zakiyah menilai persoalan utama ada pada tata kelola.
"Tata kelola yang buruk menjadi persoalan utama di sini: grusa-grusu, program dibuat tidak jelas, tidak ada perencanaan yang jelas. Seolah-olah yang dipakai adalah uang yang turun dari langit. Ini adalah uang rakyat," katanya.
"Yang dipakai untuk meracuni anak-anak ini adalah uang rakyat, bukan uang pejabat. Harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Maka hari ini di Yogyakarta, ibu-ibu menuntut: stop Makan Bergizi Gratis," lanjut Wasingatu.
Peserta aksi juga mengkritik struktur Badan Gizi Nasional, BGN, yang dinilai didominasi kalangan militer, bukan ahli gizi. Selain itu mereka menyoroti menu MBG yang mengandung ultra processed food.
Tuntutan Anggaran dan Evaluasi:
Selain aspek kesehatan, kelompok ini menuntut rombak total tata kelola MBG. Mereka meminta pemerintah menghentikan sementara program sambil membenahi sistem distribusi dan pengawasan pangan.
Kelompok Suara Ibu Indonesia juga menyoroti beban anggaran. Menurut mereka, MBG berpotensi mengalihkan dana dari sektor penting lain seperti pendidikan dan kesehatan.
Beberapa tuntutan lain yang disuarakan: pembentukan tim pencari fakta independen, audit investigatif oleh BPK, BPKP, dan KPK, serta pemulihan hak bagi korban keracunan.
Penulis-aktivis Kalis Mardiasih yang hadir mengatakan aksi ini diikuti ibu-ibu dari kalangan aktivis, seniman, akademisi, dan pegiat isu sosial di Yogyakarta dan sekitarnya.
"Kami menuntut penghentian MBG yang sentralistik dan militeristik. Gizi anak harus dikembalikan ke komunitas, sekolah, dan daerah dengan sistem yang transparan dan berbasis kebutuhan anak," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah pusat terkait tuntutan penghentian program MBG yang disuarakan dalam aksi tersebut.
---


