Rep, Supadiyono/ Dari berbagai sumber
Sleman, 3 Juni 2026 – Fenomena api misterius yang berulang kali muncul di rumah Agus Yani, warga Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, hingga kini belum menemukan titik terang. Hingga akhir Mei 2026, tercatat sudah 46 kali titik api muncul dan membakar berbagai barang di dalam rumah selama lebih dari sepekan.
Peristiwa ini tidak hanya mengundang perhatian warga sekitar, tetapi juga aparat, pemerintah daerah, hingga kalangan akademisi.
Dugaan Awal Gas Metana, Tapi Banyak Janggal
Tim Gegana Polda DIY sebelumnya melakukan pemeriksaan dan menduga adanya kebocoran gas metana dari area sekitar rumah. Keluarga Agus Yani langsung menindaklanjuti rekomendasi, termasuk memperbaiki septic tank dan mengurangi potensi akumulasi gas.
Namun api tetap muncul di berbagai titik berbeda. Sasaran kebakaran pun beragam, mulai dari pakaian, handuk, tikar, furnitur, hingga benda mudah terbakar lain. Kejanggalan lain: beberapa barang hanya terbakar sebagian, sementara bagian lain tetap utuh.
Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Eko Teguh Paripurno, menilai ada kejanggalan jika semua kejadian hanya dijelaskan oleh gas metana.
“Secara ilmiah gas metana harus memiliki sumber yang jelas. Kalau sumbernya berpindah-pindah, menurut hemat saya itu tidak berasal dari metana seperti yang saya sebutkan,” ujar Prof. Eko.
Ia menjelaskan, metana tidak bisa terbakar dengan sendirinya. Harus ada sumber panas atau pemicu. “Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah dari mana sumber panas yang memicu munculnya api di berbagai titik tersebut,” tambahnya.
Sebagai mitigasi, Prof. Eko menyarankan penggunaan blower atau exhaust fan dan membuka seluruh pintu-jendela untuk melancarkan sirkulasi udara. Ia juga mengingatkan agar tidak ada aktivitas yang memicu percikan api selama proses itu.
BPPTKG Turunkan Ekskavator, Keruk Rumpun Bambu di Sungai Nepen
Untuk mencari sumber gas, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menurunkan ekskavator di bantaran Sungai Nepen, Seyegan. Pengerukan dilakukan pada rumpun bambu yang tumbuh rapat.
Aris Dwi Nugroho, Penyelidik Bumi Muda BPPTKG, menyebut gelembung-gelembung di dasar sungai menjadi petunjuk adanya gas rawa. “Itu salah satu tanda gas metan. Kami telusuri, ternyata di sisi barat laut dekat pohon bambu ada, meski kadarnya hanya sekitar empat persen,” ungkapnya.
Gas metana diyakini menyusup melalui rekahan batuan mengikuti arah sesar kecil barat-timur yang berpotensi mengarah ke rumah Agus Yani. Tim UPN Veteran Yogyakarta juga memasang lintasan geolistrik di sekitar lokasi untuk mendeteksi rekahan tersebut.
“Setelah pengerukan bambu, tim berencana mengambil sampel udara kembali untuk memastikan apakah kadar metan benar-benar hilang. Harapannya, kalau ini hilang, sumber metan juga lenyap,” kata Aris.
Pemantauan Terus Dilakukan
BPBD Sleman terus memantau situasi dan memberikan dukungan logistik darurat. Selain berkoordinasi dengan UPN Veteran Yogyakarta, BPBD berencana melibatkan ahli dari UGM, Basarnas, dan Hiswana Migas untuk menelusuri kemungkinan sumber gas bumi, jalur gas bawah tanah, atau faktor lain yang belum teridentifikasi.
Keluarga Agus Yani untuk sementara masih mengungsi demi keselamatan. Meski rumah tidak ditinggali pada malam hari, lokasi tetap diawasi karena dikhawatirkan titik api kembali muncul.
Fenomena ini mengingatkan pada kejadian serupa di Gunungkidul tahun 2015. Saat itu api juga muncul berulang di rumah warga tanpa sumber yang jelas hingga kini masih berstatus misteri.
Di tengah berbagai dugaan yang berkembang, para ahli berharap pendekatan ilmiah dapat segera mengungkap penyebab sebenarnya agar keluarga Agus Yani bisa kembali hidup tenang tanpa dihantui kemunculan api misterius.
________________________________



