Rep, Supadiyono/ Redaksi
Gunungkidul, Semanu -- Malam Satu Suro memang selalu menyimpan daya pikat tersendiri bagi masyarakat Gunungkidul. Wengi purnama yang dipercaya sebagai gerbang pergantian tahun Jawa itu menjadi malam penuh makna, malam untuk merenung, bersyukur, sekaligus merawat tradisi. Tahun ini, Senin 15 Juni 2026 malam, giliran Dusun Piyuyon, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu yang menjadi saksi hidupnya tradisi leluhur.
Di pendapa sederhana dusun itu, kelompok seni pedalangan "Perwadi" mbabar lakon. Gending mengalun, kepyak berbunyi, dan sabda dalang menghidupkan kisah-kisah Jawa yang syarat pitutur. Layar putih jadi cermin zaman, tempat lampah para punokawan mengingatkan kita pada nilai kejujuran, kebijaksanaan, dan kebersamaan.
Pagelaran ini bukan sekadar tontonan. Ia terlaksana berkat dukungan para donatur yang percaya bahwa budaya tidak boleh berhenti di generasi kita. Setiap rupiah dan doa yang dititipkan jadi tenaga bagi para seniman Perwadi untuk terus berkarya di tengah arus zaman.
Malam itu juga terasa istimewa karena bertepatan dengan syukur http://suaradjogja.com yang memasuki usia ke-11. Sebelas tahun media online ini setia menyuarakan cerita Jogja, dari kabar desa sampai denyut kota. Dan kini, perayaan ulang tahunnya kembali ke sumber cerita itu sendiri: wayang. Karena sebelum ada berita tertulis, kisah Jogja lebih dulu lahir dari gending dan lakon dalang.
Dengan demikian, malam Satu Suro di Piyuyon jadi ruang temu. Temu antara tradisi dan media, temu antara donatur dan seniman, temu antara warga dan leluhur. Satu panggung, banyak doa. Satu lakon, seribu makna.
____________________________



