_Red, Kontributor: Atika W.N_
Gunungkidul – Sanggar Tari Atika Wulan Ndaru yang berlokasi di Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu ruang belajar seni yang aktif menjaga dan mengembangkan budaya Jawa melalui tari.
Berdiri dengan semangat pelestarian, sanggar ini menjadikan tari tradisional sebagai fondasi utama pembelajaran. Namun menurut Atika selaku pengurus sanggar, warisan budaya tidak boleh berhenti pada bentuk yang beku. Melalui kolaborasi dengan penari, pelatih, dan seniman lokal, Sanggar Atika Wulan Ndaru secara konsisten menciptakan tari kreasi baru yang tetap berakar pada pakem tradisional namun relevan dengan perkembangan zaman.
“Usia pelajar dari TK hingga SMA. Dengan pembagian kelompok belajar dalam setiap sesi latihan,” ujar Atika menjelaskan sistem pembelajaran di sanggarnya.
Pembagian kelompok dilakukan agar materi yang diberikan sesuai dengan usia dan kemampuan siswa. Untuk jenjang TK dan SD, fokus pembelajaran diarahkan pada pengenalan ritme, gerak dasar, dan kedisiplinan melalui pendekatan yang menyenangkan. Sementara untuk siswa SMP dan SMA, latihan lebih ditekankan pada penguasaan teknik, ekspresi, serta pemahaman filosofi di balik setiap gerakan tari.
Lebih dari sekadar keterampilan menari, sanggar ini juga menjadi ruang pembentukan karakter. Siswa belajar kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, hingga kepercayaan diri melalui proses latihan dan pementasan. Selain itu, mereka juga diajak memahami nilai, cerita, dan simbol yang terkandung dalam setiap tarian Jawa.
Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, kehadiran Sanggar Tari Atika Wulan Ndaru diharapkan menjadi jangkar bagi generasi muda Gunungkidul agar tetap mengenal, mencintai, dan bangga terhadap warisan budaya daerahnya. Melalui model pembelajaran yang berjenjang dan kolaboratif, sanggar ini menargetkan lahirnya penari yang tidak hanya mahir di atas panggung, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat melalui seni.
-----------------------------------



