Red, Sumarja S/ Redaksi
(gambar ilustrasi dari berbagai sumber)
Gunungkidul, __ Seorang warga Dusun Mokol, Kalurahan Selang, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, geram karena merasa dipermainkan oleh Jogoboyo kalurahan Selang.
Warga Mokol berinisial WD, menagih utang kepada TH, Jogoboyo, selalu disemayani atau hanya janji saja. Dengan nada kesal, WD menceritakan kepada media kalau yang menjadi korban bukan hanya dirinya saja.
"Ada beberapa orang yang menjadi korban Jogoboyo Kalurahan Selang mas. Menurut saya ini sudah masuk penipuan," jelas WD, Rabu (18/2/2026) di salah satu kuliner Wonosari.
Dijelaskan kalau TH, Jogoboyo Kalurahan Selang, pinjam uang pada WD untuk mengganti uang Kalurahan saat akan pelantikan Dukuh karena uang Kalurahan sudah ia pakai.
"Padahal sudah berjanji dengan membuat surat bermetre. Tapi hingga saat ini belum mengembalikan," ungkap WD.
Ditambahkan, kalau TH juga menggunakan uang Kelompok Usaha Mandiri (KUM) untuk budidaya ikan lele, bantuan dari pemerintah dan sebagian iuran dari anggota, hingga usaha gagal karena dananya diselewengkan TH.
Lurah Selang, Wardoyo, saat dikonfirmasi lewat sambungan WhatsApp, menanggapi hal ini mengaku baru tahu setelah membaca berita kalau perangkatnya membuat resah warga.
Agar masalah bisa cepat selesai, Lurah Selang akan memediasi yang bersangkutan dan melibatkan media agar tidak simpangsiur dalam pemberitaan.
Kabar terkait yang telah dipublikasikan oleh beberapa media seperti salah satu berikut.
Ketenangan warga Kalurahan Selang terusik oleh mencuatnya keluhan serius terkait kinerja salah satu pamong desa berinisial TH yang menjabat sebagai Jogoboyo. Pejabat yang seharusnya bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban (jagabaya) tersebut kini justru menjadi sorotan tajam masyarakat akibat dugaan pengabaian tugas pokok hingga indikasi penyalahgunaan dana milik warga dan anggaran desa.
Kritik keras datang dari DW, warga Padukuhan Mokol. Kepada awak media, DW menyatakan keprihatinannya atas sikap sang Jogoboyo yang dinilai tidak profesional dan terkesan mengesampingkan kewajibannya sebagai pelayan publik.
"Kami melihat ada degradasi kinerja yang sangat mencolok. Fungsi-fungsi koordinasi keamanan dan pelayanan kepada masyarakat seolah tidak berjalan. Jogoboyo terkesan lebih mementingkan urusan pribadi daripada tugas formalnya di kalurahan," ujar DW kepada wartawan Rabu (18/2/2026).
Dugaan Penggelapan Dana 'Lele' dan Hutang Warga
Permasalahan tidak berhenti pada persoalan kinerja. DW membeberkan fakta mengejutkan mengenai adanya uang milik Kelompok Usaha Bersama (KUB) di unit usaha peternakan lele yang diduga dibawa oleh oknum Jogoboyo tersebut. Dana yang seharusnya menjadi modal putar bagi pemberdayaan ekonomi warga tersebut hingga kini tidak jelas rimbanya.
Selain itu, moralitas oknum pamong ini semakin dipertanyakan menyusul mencuatnya kasus pinjaman pribadi kepada warga. Diketahui, demi "melancarkan" urusan yang berkaitan dengan jabatan, ia meminjam sejumlah uang kepada warga dengan janji segera dikembalikan. Namun, hingga berita ini diturunkan, uang tersebut belum juga dibayarkan, sehingga memicu mosi tidak percaya di kalangan masyarakat bawah.
Anggaran Pelantikan Dukuh Randukuning II Bocor"?
Skandal yang paling menyita perhatian adalah terkait persiapan pelantikan Dukuh Randukuning II yang dilaksanakan pada Desember 2025 kemarin. Muncul dugaan kuat bahwa Jogoboyo tersebut telah "merusak" atau menyalahgunakan pos anggaran yang semestinya dialokasikan untuk prosesi pelantikan tersebut.
Langkah nekat oknum tersebut yang mencoba menutupi lubang anggaran dengan meminjam uang kepada warga sekitar justru memperkeruh suasana. Hal ini dianggap sebagai bentuk manajemen birokrasi yang bobrok di tingkat kalurahan.
Masyarakat kini mendesak Lurah Selang dan jajaran Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPkal) untuk segera mengambil tindakan tegas. Audit internal dan klarifikasi terbuka sangat diperlukan agar kepercayaan publik terhadap institusi Kalurahan Selang tidak runtuh.
"Pamong itu dibayar dari pajak rakyat dan tanah pelungguh. Jika kinerjanya buruk dan malah merugikan keuangan warga, harus ada sanksi administratif hingga hukum yang jelas. Kami tidak ingin citra Kalurahan Selang rusak karena satu oknum," pungkas salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Hingga saat ini, redaksi masih berupaya menghubungi pihak Pemerintah Kalurahan Selang dan oknum Jogoboyo terkait untuk mendapatkan klarifikasi resmi atas tudingan-tudingan tersebut.
_________________________



