Rep, Supadiyino/ Redaksi
Gunungkidul, -- Mengacu pada peliputan perhelatan akbar Pekan Olahraga Daerah (PORDA) XVII DIY, di gunungkidul tersebar isu pembatasan peliputan.
Informasi yang beredar menyebutkan, Dinas Kominfo Gunungkidul hanya membuka akses peliputan kepada 30 media saja. Kebijakan ini sontak menuai tanda tanya besar. Mengapa momentum bersejarah justru dibatasi dokumentasinya?
Padahal, jurnalis di Gunungkidul sudah lama menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Mereka hadir dalam setiap geliat pembangunan, mengedukasi masyarakat lewat pemberitaan yang jernih, sekaligus mengabadikan perjalanan daerah. Bagi mereka, PORDA bukan sekadar pesta olahraga, melainkan catatan penting dalam perjalanan sejarah Gunungkidul.
Namun kenyataannya, sebagian jurnalis harus menelan kekecewaan. Beberapa media yang selama ini konsisten mengawal isu-isu daerah tak bisa serta-merta masuk ke arena liputan. Rasa kecewa itu wajar, sebab profesi mereka bukan hanya mencari berita, melainkan ikut menyalurkan semangat sportivitas dan kebanggaan bagi warga.
Menanggapi hal ini, Ketua Panitia PORDA XVII DIY 2025 Kabupaten Gunungkidul, Agus Mantara, memberikan angin segar. Ia menegaskan bahwa urusan teknis peliputan memang berada di bawah kewenangan Dinas Kominfo, namun dirinya membuka ruang seluas-luasnya bagi insan pers. “Saya selaku ketua panitia memberikan ruang bagi teman-teman pers untuk meliput kegiatan PORDA XVII DIY. Cukup tunjukkan kartu pers kepada panitia di lapangan,” ujarnya, Selasa siang.
Agus juga menambahkan bahwa keberadaan media sangat penting, terutama untuk menyuarakan semangat kebersamaan yang diusung ajang olahraga terbesar di DIY ini. “Profesi jurnalis memiliki peran strategis untuk menyebarluaskan semangat sportivitas dan kebanggaan daerah. Mari kita kawal PORDA ini bersama. Kalau ada yang tidak diperbolehkan meliput, hubungi saya,” tegasnya.
Mengutip narasi yang dipublikasikan Humas Pemda DIY, Selasa, (9/9).
4.024 atlet berlaga di Pekan Olahraga Daerah (Porda) DIY XVII 2025 di Gunungkidul. Porda kali ini merupakan langkah untuk menjadi bagian dari Indonesia, yang tangguh dan unggul di tahun 2045 melalui olahraga.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan hal ini pada pembukaan Porda DIY XVII 2025, Selasa (09/09) di Stadion Gelora Handayani, Gunungkidul. Sri Sultan menegaskan, Porda bukan hanya kompetisi, melainkan bagian dari proses pembinaan atlet secara berjenjang.
Menurut Sultan, pembinaan olahraga saat ini harus berbasis data, riset, dan teknologi agar tepat sasaran. Melalui sistem pendataan olahraga terintegrasi, potensi atlet bisa dipetakan, perkembangan dilacak, serta program pembinaan dievaluasi secara objektif.
“Kita telah memasuki era di mana data adalah mata panahnya, sedangkan riset adalah busurnya,” ujar Sri Sultan.
Sri Sultan menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam olahraga. Termasuk pemanfaatan analisis video, perangkat pelatihan berbasis sensor, hingga pengembangan E-Sport yang dinilai memiliki potensi besar di Yogyakarta.
Sri Sultan menambahkan, pembinaan harus dimulai sejak sekolah melalui kompetisi berjenjang di tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK. Program Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) juga perlu dioptimalkan agar talenta emas tidak terlewat.
___________



