Red, DMST/ Redaksi
YOGYAKARTA – Strategi membawa kuliner tradisional ke pasar modern tanpa kehilangan identitas budaya menjadi bahasan utama dalam sharing session bertajuk _“Local Taste, Modern Market: Strategi Bisnis Kuliner Tanpa Kehilangan Akar Budaya”_ di panggung utama Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG), Artisan Market, Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026).
Narasumber dalam sesi tersebut, Roni Kurniawan, membagikan strategi bagi pelaku usaha kuliner lokal dalam menghadapi perubahan selera konsumen dan tuntutan pasar modern.
Roni merupakan akademisi dan dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta yang juga aktif sebagai pendamping UMKM, instruktur kuliner, dan praktisi wirausaha.
Dalam pemaparannya, Roni menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi bisnis dan identitas budaya. Menurutnya, kekuatan kuliner tradisional terletak pada karakter, cerita, dan cita rasa yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Tantangan terbesar industri kuliner lokal saat ini adalah mengemas autentisitas budaya menjadi produk yang _marketable_ dan memiliki daya pikat modern, tanpa mengikis nilai filosofis serta keaslian cita rasanya,” ujar Roni.
Ia menjelaskan, membawa produk tradisional ke pasar yang lebih luas tidak harus mengubah produk secara mendasar. Adaptasi dapat dilakukan pada aspek pendukung, mulai dari tampilan produk, sistem produksi, pemasaran, hingga pengelolaan mutu.
Salah satu aspek kunci adalah *kemasan atau packaging*. Kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga membangun persepsi konsumen terhadap kualitas dan identitas produk.
Selain itu, pelaku usaha perlu memperhatikan *standardisasi mutu*. Konsistensi rasa, ukuran, kualitas bahan baku, kebersihan, hingga proses produksi menjadi faktor penting ketika produk mulai masuk ke pasar yang lebih luas.
Roni juga menekankan *efisiensi manajemen dapur dan proses produksi*. Pengelolaan yang terstruktur diperlukan agar peningkatan permintaan tidak menurunkan kualitas.
Di sisi pemasaran, *digital marketing* menjadi instrumen penting untuk memperluas jangkauan. Pemanfaatan media digital memungkinkan pelaku usaha memperkenalkan produk, membangun merek, sekaligus berinteraksi langsung dengan konsumen.
Menurutnya, kemampuan _scaling up_ harus dibangun bertahap. UMKM tidak cukup hanya memiliki produk yang enak, tetapi juga harus memiliki identitas kuat, kualitas konsisten, kemasan yang sesuai, dan strategi pemasaran yang tepat sasaran.
Sharing session tersebut menjadi bagian dari rangkaian Artisan Market yang berlangsung 2–4 Oktober 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, yang menghadirkan berbagai aktivitas pengembangan produk dan ekosistem ekonomi kreatif.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan kuliner tradisional diharapkan tidak hanya mempertahankan resep dan cita rasa, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar tanpa kehilangan akar budaya sebagai identitasnya.
_______________________________