Iklan

header ads

TNI & POLRI Turun Tangan Menggerakkan Operasi Kemanusiaan Bhakti Air Bersih di Gunungkidul

Red, Supadiyono/ Redaksi
Gunungkidul, -- Setiap kali musim kemarau datang, wajah Gunungkidul berubah. Bukit-bukit karst yang biasanya hijau mulai menguning. Sungai-sungai mengecil, dan sumur-sumur warga perlahan surut. 

Di kabupaten yang 60% wilayahnya berupa perbukitan kapur ini, menyimpan air memang tantangan. Tadah hujan di tiap rumah — satu-satunya andalan untuk minum dan masak — cepat habis ketika hujan tak turun berbulan-bulan. Akibatnya, warga harus jalan berkilo-kilometer hanya untuk menimba air, atau membeli air dengan harga yang tidak semua orang sanggup.

Di tengah kondisi itulah peran aktif TNI dan POLRI terasa paling nyata.

Sejak Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY menetapkan status siaga kekeringan, Kodim 0730/Gunungkidul bersama Polres Gunungkidul langsung menggerakkan operasi kemanusiaan "Bhakti Air Bersih". 

1. Menjadi penyalur utama
Setiap pagi, truk tangki milik TNI AD dan mobil water canon POLRI yang dimodifikasi untuk air bersih mulai bergerak. Rutenya sudah dipetakan: dusun-dusun di Ponjong, Semin, Patuk, hingga Panggang yang paling parah terdampak. 
Anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas lebih dulu turun ke lapangan. Mereka mendata, berkoordinasi dengan kepala dusun, lalu memastikan tidak ada warga yang terlewat. Saat tangki datang, TNI-POLRI yang membagikan, mengantrekan jeriken warga, dan memastikan pembagian berjalan tertib tanpa pungutan.

2. Membangun akses jangka panjang
Selain droping air, Satgas TNI juga membantu membuat sumur bor, membangun bak penampungan komunal, dan memperbaiki pipa-pipa air yang rusak. Sementara POLRI melalui program "Polisi Peduli" membuka posko pengaduan kekeringan dan mengawal distribusi agar tidak terjadi penimbunan.

3. Menjadi penguat moral
Yang tidak kalah penting: kehadiran mereka. Di tengah kekhawatiran warga, seragam loreng dan baju coklat yang datang membawa air memberi rasa aman. Anak-anak SD diajak edukasi hemat air. Ibu-ibu PKK dilatih membuat penampungan sederhana. TNI-POLRI tidak hanya datang sebagai pembawa air, tapi juga sebagai teman yang tinggal sampai musim hujan tiba.

Dalam beberapa bulan kemarau, ribuan tangki air berhasil disalurkan. Ribuan keluarga di Gunungkidul bisa kembali memasak, minum, dan menjaga kesehatan anak-anaknya.

Bagi warga Gunungkidul, kemarau memang belum bisa dilawan. Tapi dengan TNI dan POLRI yang aktif turun ke desa, setidaknya rasa haus dan cemas bisa diatasi bersama. 

Karena di saat alam sedang menguji, gotong royong dan pengabdianlah yang membuat air tetap bisa mengalir

________________________________