_Penulis: kinanthi_ /Redaksi
Gunungkidul, -- Di lereng perbukitan selatan Yogyakarta, tersembunyi sebuah sudut desa yang pelan-pelan menata dirinya menjadi ruang hidup sekaligus ruang rekreasi warga: Padukuhan Waru, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.

telaga ngurik,yang memiliki   
   Luas 600m2,yang terletak di tengah tengah padukuhan 
 Waru,yang juga airnya digunakan warga setempat untuk mencuci dan juga untuk membudidayakan ikan,yang di kelola oleh pemuda setempat yang setiap tahun nya diadakan pemancingan,karena keindahan dan kesejukan udara yang ada di telaga ngurik ,cocok sekali untuk berteduh.


Luweng keceme ,di padukuhan waru ada luweng keceme yaitu goa yang menyimpan aliran air sungai dari bawah tanah yang kini telah diangkat dan di manfaatkan warga setempat airnya ,debit air mencukupi satu padukuhan tetapi baru tersalurkan di 4 rt,dari 6  rt sepadukuhan waru .


 Embung membran nggreseng— Penampung Air dan Penyejuk Mata
Embung membran nggreseng adalah embung desa yang dibangun untuk mengatasi masalah kekeringan khas wilayah karst Gunungkidul. Di musim kemarau, tanah di Girisekar yang berada di ketinggian sekitar 400 mdplcenderung kering dan tandus. Embung ini berfungsi sebagai penampung air hujan yang kemudian digunakan warga untuk mengairi ladang, menyiram kebun, dan kebutuhan ternak. 

Selain fungsi teknisnya, Embung membran nggreseng pelan-pelan berubah fungsi sosial. Sore hari, permukaan air yang tenang memantulkan langit selatan Gunungkidul. Anak-anak bermain di tanggul, bapak-bapak memeriksa saluran air, dan ibu-ibu duduk sambil bercerita. Lanskapnya sederhana: tanah merah, pepohonan jati rakyat, dan angin yang datang dari arah Samudra Hindia yang hanya beberapa kilometer di selatan. Tempat ini jadi bukti bagaimana infrastruktur pertanian bisa sekaligus menjadi ruang publik desa. 

 Kebun Alpukat — Usaha Baru di Tanah Batu Putih
Girisekar dikenal dengan tanahnya yang berbatu putih keras dan kesuburan tipis. Kondisi ini dulunya membatasi pilihan tanaman. Tapi beberapa tahun terakhir, warga Padukuhan Waru mulai mengembangkan kebun alpukat sebagai komoditas unggulan. 

Alpukat cocok dengan iklim tropis dan tanah gembur di sela-sela batu kapur. Di Waru, kebun alpukat dikelola secara berkelompok oleh warga, biasanya di lahan pekarangan dan tegalan yang dulunya ditanami palawija. Saat musim panen tiba, buahnya dijual ke pasar Panggang dan Wonosari, bahkan ada yang dijual langsung ke wisatawan yang mampir.

Kebun ini bukan sekadar sumber pendapatan. Dia jadi alasan warga berkumpul untuk gotong royong merawat pohon, membuat pupuk organik, dan belajar teknik grafting. Di tengah desa budaya seperti Girisekar, kebun alpukat menjadi contoh bagaimana tradisi gotong royong bisa bertemu dengan ekonomi produktif. 

Waru dalam Konteks Girisekar
Padukuhan Waru adalah salah satu dari 9 padukuhan di Girisekar. Desa ini sendiri punya identitas kuat sebagai "Desa Budaya" dengan pusaka Cupu Panjolo berusia 500 tahun di Padukuhan Mendak. 3f26284d

Embung membran greseng dan Kebun Alpukat di Waru melengkapi cerita itu: kalau Mendak menjaga warisan masa lalu, maka Waru sedang menulis masa depan lewat ketahanan air dan pertanian. Keduanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kecamatan Panggang, dan bisa dijangkau lewat jalan desa yang berkelok di antara bukit kapur. 

---

*Nuansa yang bisa kamu rasakan di sana:*
- Pagi: kabut tipis turun di atas embung, burung-burung mulai bersuara dari pohon jati.
- Siang: panas Gunungkidul terasa, tapi teduh di bawah pohon alpukat.
- Sore: embung jadi tempat nongkrong warga, cerita tentang panen dan cuaca bertukar di sana.

Data spesifik tentang Embung  membran ngreseng dan Kebun Alpukat di Waru masih jarang terdokumentasi online, jadi cerita ini disusun dari kondisi geografis dan pola pengembangan desa di Girisekar.