Iklan

header ads

Bangkai Sapi PMK Diduga Masih Beredar di Tangan Tengkulak

Sumber, Sekber Journalists Media Gunungkidul
‎GUNUNGKIDUL (DIY) – Di tengah perjuangan para peternak melawan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sebuah fakta mengejutkan menyeruak ke permukaan. Praktik jual beli bangkai sapi atau sapi yang telah mati akibat PMK diduga masih terjadi di wilayah Gunungkidul. Praktik culas ini tidak hanya mencederai moralitas perdagangan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik dan upaya pemerintah dalam memutus rantai penularan virus.
‎Berdasarkan investigasi dan laporan lapangan, oknum-oknum tertentu diduga memanfaatkan kepanikan peternak yang merugi besar. Sapi yang seharusnya dikubur sesuai protokol kesehatan hewan, justru berpindah tangan dengan harga sangat murah untuk kemudian "diolah" kembali.
‎Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap keamanan pangan (food safety). Daging dari ternak yang mati karena sakit terutama PMK memiliki risiko kontaminasi yang tinggi. Meski virus PMK tidak menular langsung ke manusia (bukan zoonosis), proses pemotongan dan distribusi bangkai sapi di tempat yang tidak resmi berpotensi menyebarkan virus ke ternak sehat lainnya melalui sarana transportasi dan peralatan yang tercemar.
‎Fenomena ini memicu kritik tajam terhadap sistem pengawasan di pasar hewan dan rumah potong. Mengapa bangkai sapi bisa keluar dari area peternakan tanpa pengawasan ketat?
‎"Kita tidak bisa hanya menyalahkan peternak yang terdesak ekonomi. Ini adalah masalah sistemik. Lemahnya pendampingan dari dinas terkait dan minimnya kompensasi bagi peternak yang hewannya mati membuat mereka tergiur melepas bangkai sapi tersebut ke tengkulak nakal," ujar salah satu pengamat kebijakan publik daerah.
‎Kritik juga ditujukan pada penegakan hukum. Jika praktik ini dibiarkan tanpa sanksi tegas, Gunungkidul yang dikenal sebagai gudang ternak DIY bisa kehilangan kepercayaan konsumen. Citra daging sapi asal Gunungkidul yang selama ini dikenal berkualitas kini dipertaruhkan di tangan para spekulan bangkai.
‎Bahaya Kesehatan dan Dampak Ekonomi Jangka Panjang
‎Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan seharusnya bertindak lebih agresif. Menjual daging dari hewan yang mati kemarin (bangkai) adalah pelanggaran UU Pangan dan UU Peternakan. Konsumen berhak mendapatkan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).
‎Temuan Kasus Ternak Mati di Gunungkidul, Kalurahan Watusigar Koordinasi dengan Dinas Terkait
‎Pihak Pemerintah Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, terus melakukan koordinasi intensif dengan dinas terkait menyusul adanya laporan mengenai ternak sapi yang mati di wilayah tersebut. Langkah ini diambil guna memastikan penyebab kematian ternak serta mencegah potensi penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).
‎Jagabaya Watusigar, dalam keterangannya, mengungkapkan bahwa informasi awal mengenai kejadian ini justru diterima dari pihak Puskesmas Kapanewon Ngawen sebelum akhirnya ditindaklanjuti secara lintas sektoral.
‎"Pertama kali kami mengetahui informasi ini dari Puskesmas Ngawen. Setelah itu, kami bersama dinas terkait langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk memastikan kebenarannya," ujar Jagabaya Watusigar Wiji Rustanto saat dikonfirmasi, Sabtu (31/1/2026).
‎Setelah melakukan peninjauan lokasi, tim gabungan yang terdiri dari unsur pemerintah kalurahan dan dinas teknis juga melakukan pengecekan kesehatan terhadap warga sekitar. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dampak kesehatan terhadap manusia. Berdasarkan pengecekan tersebut, dipastikan bahwa kondisi kesehatan warga di sekitar lokasi aman.
‎"Dari dinas juga sudah melakukan tinjauan ke lokasi dan pengecekan ke warga. Untuk manusia, hasilnya aman," tambahnya.
‎Sebagai tindak lanjut, pihak Dinas terkait juga telah menyelenggarakan sosialisasi di tingkat kalurahan. Sosialisasi tersebut berfokus pada implementasi Peraturan Bupati (Perbub) Nomor 10, khususnya mengenai prosedur penanganan ternak sapi atau hewan ternak lainnya yang mati atau sakit.
‎Dalam aturan tersebut, warga diimbau untuk segera melaporkan kejadian kematian ternak agar dapat dilakukan penanganan sesuai prosedur, termasuk mekanisme pemberian tali asih bagi warga yang terdampak.
‎Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pendalaman lebih lanjut mengenai kronologi lengkap kejadian tersebut. Warga diminta untuk tetap tenang dan segera melaporkan kepada petugas kesehatan hewan jika menemukan gejala penyakit pada hewan ternak mereka guna mencegah kerugian yang lebih besar.

________________________